Aceh Barat,31/01/2026- Di tengah masih kuatnya identitas Aceh sebagai daerah bersyariat Islam, persoalan literasi Al-Qur’an anak-anak masih menjadi tantangan serius. Banyak peserta didik yang telah menempuh pendidikan formal bertahun-tahun, namun belum memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an secara baik dan lancar.
Sebagai ikhtiar menghadirkan solusi nyata, akan digagas sebuah program edukatif bertajuk “Aksi 10 Menit Mampu Membaca Al-Qur’an”, sebuah kegiatan pembuktian praktis penerapan Metode AYA — metode pembelajaran Al-Qur’an yang dirancang sederhana, sistematis, dan berorientasi pada percepatan kemampuan membaca.

Metode AYA dibangun dengan prinsip yang mudah dipahami masyarakat:
sebagaimana anak-anak dapat membaca bahasa Indonesia setelah mengenal huruf abjad (A–Z), maka anak-anak juga dapat membaca Al-Qur’an setelah mengenal huruf hijaiyah secara benar dan terstruktur.
Seluruh ayat Al-Qur’an tersusun dari huruf-huruf hijaiyah, sehingga penguasaan huruf menjadi pintu utama literasi Qur’ani.
Melalui pendekatan ini, pembelajaran tidak dimulai dari hafalan panjang atau teori rumit, tetapi dari pengenalan huruf, bunyi, pola bacaan, hingga anak mampu membaca ayat secara bertahap, alami, dan menyenangkan.
Kegiatan Aksi 10 Menit Mampu Membaca Al-Qur’an dirancang sebagai model pembuktian langsung bahwa membaca Al-Qur’an dapat diajarkan secara mudah, cepat, dan terstruktur, tanpa membebani anak secara psikologis maupun akademik.
Program ini, insyaallah, direncanakan akan dilaksanakan secara bertahap di sejumlah sekolah dan lembaga pendidikan dalam wilayah Provinsi Aceh, sebagai bagian dari ikhtiar membangun sistem literasi Qur’ani yang lebih efektif, terukur, dan aplikatif.
Metode AYA sendiri dikembangkan oleh Ustadz Syamsul Kamal, pendidik Qur’an dan pimpinan TPQ Cahaya Penerang Jiwa, bersama tim sebagai respon terhadap kebutuhan umat akan metode pembelajaran Al-Qur’an yang sederhana, logis, dan mampu mempercepat kemampuan membaca anak-anak.
Kegiatan ini tidak sekadar bersifat demonstratif, tetapi diarahkan sebagai langkah awal membangun model pembelajaran Qur’an yang lebih sistemik — dari tradisi menuju sistem, dari simbol menuju transformasi, dari ritual menuju kompetensi.
Dengan hadirnya pendekatan ini, diharapkan pembelajaran Al-Qur’an tidak lagi menjadi proses yang panjang dan penuh ketidakpastian, tetapi menjadi pengalaman belajar yang dekat, mudah, dan membahagiakan bagi anak-anak.




