Aceh Barat, 28 April 2026 — Tidak semua gerakan besar lahir dari sesuatu yang besar.
Di Batu Putih, Meulaboh, ia justru dimulai dari dapur-dapur sederhana—dari tangan-tangan ibu rumah tangga yang setiap hari memasak untuk keluarganya.
Saat menanak nasi, mereka berhenti sejenak.
Bukan karena lupa…
tetapi karena sengaja menyisihkan.
Satu genggaman beras.
Tidak lebih.
Namun dari kebiasaan kecil yang diulang itu, sebuah gerakan kepedulian tumbuh—diam-diam, konsisten, dan kini mulai memberi dampak nyata.
Gerakan ini hidup di tengah jamaah Akademi Kehidupan Qur’ani melalui program pengajian Beut Droe. Sebuah majelis yang tidak hanya mengajarkan Al-Qur’an sebagai bacaan, tetapi sebagai jalan hidup.
Dari Majelis ke Dapur, Lalu Kembali ke Masyarakat
Setiap pekan, jamaah berkumpul dalam pengajian. Mereka belajar membaca Al-Qur’an, memahami adab, dan memperbaiki diri.
Namun pembelajaran itu tidak berhenti di ruang kajian.
Ia bergerak… masuk ke rumah.
Masuk ke dapur.
Masuk ke kebiasaan sehari-hari.
Setiap kali memasak, jamaah menyisihkan segenggam beras.
Tanpa kewajiban.
Tanpa tekanan.
Hanya kesadaran.
Beras itu kemudian dikumpulkan, dan pada Minggu terakhir setiap bulan, dibawa ke majelis untuk disatukan dan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Sementara itu, pelengkap santunan seperti telur dan minyak makan berasal dari infaq Rp2.500 per orang setiap kali pengajian mingguan—jumlah kecil yang, ketika dikumpulkan, menjadi cukup berarti.
Di situlah pola itu terbentuk:
ngaji setiap minggu, berbagi setiap akhir bulan.
Orang-Orang di Balik Gerakan Sunyi
Di balik gerakan yang tampak sederhana ini, ada orang-orang yang menjaga agar ia tidak padam.
Ustadz Syamsul Kamal, sebagai pendiri AKQ, guru pengajar, sekaligus pembina program, meletakkan fondasi bahwa ilmu tidak boleh berhenti di lisan. Ia harus hidup dalam amal.
Di lapangan, Supiani, Bunda Imarah AKQ, menjadi penggerak utama. Ia bukan hanya penanggung jawab program Beut Droe, tetapi juga sosok yang memastikan jamaah tetap terhubung dengan tujuan awal—mengingatkan, mengoordinir, bahkan menjaga ritme kebiasaan kecil seperti menyisihkan beras.
Di sisi pelayanan, Irma Fitri, Amd, sebagai Bunda Khidmah, memastikan bahwa apa yang dikumpulkan benar-benar sampai kepada yang membutuhkan. Ia mengurus distribusi, memastikan bantuan tepat sasaran, dan menjaga kepercayaan jamaah.
Sementara itu, Ermaini, SE, Bunda Hikmah, hadir sebagai penjaga arah. Dengan saran-saran bijaksana, ia mengontrol dan mengarahkan agar program tetap berjalan dalam nilai—tidak sekadar kegiatan, tetapi juga pembinaan.
Tidak ada sorotan berlebihan atas peran-peran ini.
Namun justru di situlah kekuatannya:
kerja sunyi… yang berdampak nyata.
Ketika Kecil Menjadi Besar
Gerakan ini bukan yang pertama.
Sebelumnya, penyaluran santunan telah beberapa kali dilakukan dan mendapat perhatian media.
Namun yang membuatnya berbeda bukanlah publikasinya—
melainkan keberlanjutannya.
Ia tidak berhenti.
Tidak musiman.
Tidak bergantung pada momentum.
Ia berjalan… karena dijaga bersama.
Lebih dari Sekadar Santunan
Bagi jamaah, ini bukan sekadar program berbagi.
Ini adalah latihan hati.
Belajar bahwa:
memberi tidak mengurangi…
berbagi tidak membuat kekurangan…
dan kebahagiaan sering datang… justru saat kita melepas.
Dari Meulaboh, Sebuah Pelajaran Sederhana
Apa yang terjadi di Batu Putih mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang.
Namun di tengah dunia yang sering mengukur segalanya dengan angka besar, gerakan ini menghadirkan pelajaran sederhana:
Bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang…
ia hanya butuh satu genggaman.
Dan ketika genggaman itu dilakukan bersama,
dijaga setiap hari,
dan disalurkan dengan ikhlas—
ia akan tumbuh…
menjadi kepedulian yang hidup.
Dari dapur-dapur sederhana di Meulaboh,
segenggam beras itu terus bergerak.
Setiap bulan. Tanpa henti.





