Meulaboh, Aceh Barat — Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan menuntut, ketika banyak orang tampak kuat di luar namun lelah di dalam, sebuah majelis sederhana di Kopiah Teuku Umar, Batu Putih, Meulaboh, menghadirkan sesuatu yang mulai langka: ketenangan. 06/04/2026
Pada Ahad, 5 April 2026, Akademi Kehidupan Qur’ani secara resmi membuka program Pengajian Beut Droe, sebuah ruang pembinaan ruhani yang tidak hanya mengajarkan bacaan Al-Qur’an, tetapi mengajak jamaah kembali menyentuh makna terdalam kehidupan—melalui hati.
Sambutan Menyentuh: “Kita Datang untuk Pulang”
Acara dibuka dengan sambutan penuh haru dari Bunda Imarah AKQ, Supiani, yang berbicara tidak hanya dengan kata, tetapi dengan rasa.
Dalam penyampaiannya, beliau mengajak jamaah untuk jujur terhadap diri sendiri—bahwa di balik kesibukan hidup, ada hati yang sering diabaikan.
“Beut Droe hadir bukan untuk membuat kita terlihat lebih baik… tetapi untuk mengajak kita pelan-pelan kembali melihat diri sendiri. Karena siapa yang mengenal dirinya, akan mulai mengenal Tuhannya.”

Beliau juga menegaskan bahwa setiap orang datang dengan cerita yang berbeda, namun memiliki satu kesamaan:
sedang mencari ketenangan.
Suasana majelis pun terasa lebih dari sekadar pengajian—melainkan ruang untuk kembali.
Hymne AKQ: Saat Kata Menjadi Doa
Suasana semakin menyentuh saat Bunda Insyirah Khadijah, S.P. membawakan Hymne AKQ.
Ketika bait ini dilantunkan:
“Mengaji bukan sekadar bunyi… tapi agar hati kembali suci…”
beberapa jamaah mulai terdiam…
sebagian lainnya menunduk…
Karena yang disentuh bukan telinga…
tetapi hati.
Bimbingan Ustadz: Mengaji yang Menghidupkan Hati
Memasuki inti pengajian, Ustadz Syamsul Kamal membimbing jamaah dengan pendekatan yang lembut namun dalam—mengajak untuk tidak sekadar membaca, tetapi merasakan Al-Qur’an dalam kehidupan.
Beliau menekankan bahwa perjalanan memperbaiki diri dimulai dari kejujuran hati.
“Sering kali yang melelahkan bukan hidup… tetapi isi pikiran kita sendiri. Ketika hati kembali kepada Allah, maka yang berat pun akan terasa ringan.”
Pendekatan yang dibawakan membuat suasana majelis terasa hidup, hangat, dan menyentuh—bukan sekadar belajar, tetapi mengalami.
Bismillah: Ternyata Hidup Ini Penuh Kasih Sayang
Pengajian dimulai dari sesuatu yang paling sering dibaca…
namun sering paling tidak dirasakan:
“Bismillahirrahmanirrahim”
Di sinilah banyak jamaah tersadar…
bahwa hidup yang selama ini terasa berat…
ternyata tetap berjalan dalam kasih sayang Allah.
Bahwa “Ar-Rahman Ar-Rahim” bukan sekadar lafaz…
tetapi kenyataan yang sering kita lupakan.
An-Nas: Musuh yang Paling Dekat Ternyata dari Dalam
Saat tadabbur Surat An-Nas disampaikan…
suasana semakin hening.
Karena jamaah diajak melihat sesuatu yang jarang disadari:
bahwa yang paling melelahkan bukan dunia…
tetapi pikiran kita sendiri.
Bisikan:
“Kamu tidak cukup…”
“Kamu gagal…”
“Kamu tidak akan berubah…”
ternyata bukan selalu kebenaran…
melainkan waswas yang perlahan menjauhkan kita dari Allah.
Puncaknya: Akhlak, Bukan Sekadar Bacaan
Di bagian akhir, satu pesan yang terasa sangat kuat disampaikan:
Khatam Al-Qur’an bukan ketika selesai membacanya…
tetapi ketika akhlaknya hidup dalam diri.
Bukan seberapa banyak yang dihafal…
tetapi seberapa dalam hati berubah.
Majelis yang Tidak Menghakimi
Tidak ada yang dipaksa berubah.
Tidak ada yang disalahkan.
Yang ada hanyalah:
Ruang untuk jujur
Ruang untuk kembali
Ruang untuk memulai lagi
Pelan-pelan…
Penutup: Kita Semua Sedang Dalam Perjalanan
Di akhir majelis, satu hal terasa jelas…
tidak ada yang datang sebagai orang yang sudah sempurna.
Semua datang…
sebagai manusia yang ingin pulang.
Dan mungkin…
bukan dunia yang perlu kita perbaiki terlebih dahulu…
tetapi hati kita sendiri.
Karena pada akhirnya…
yang kita cari bukan hidup yang sempurna…
tetapi hati yang tenang bersama Allah.





