Akademi Ramadhan bertajuk “Bisa Baca & Bisa Mengajar Al-Qur’an” yang digelar di Kupiah Teuku Umar, Batu Putih, tidak hanya menjadi ruang pembelajaran teknis membaca Al-Qur’an. Memasuki pertemuan keempat, program ini menghadirkan perubahan yang dirasakan langsung oleh para peserta, baik secara akademik maupun spiritual. Aceh Barat, 25/02/2026.
Program yang dilaksanakan dalam 10 pertemuan pada 21, 22, 24, 25, 26, dan 27 Februari serta 7, 8, 11, dan 12 Maret 2026 ini diikuti oleh ibu-ibu peserta pembinaan, jamaah pengajian Beut Droe, serta murid TPQ Cahaya Penerang Jiwa.
Yang menonjol bukan hanya materi yang diajarkan, melainkan semangat para peserta yang tetap hadir meski dalam kondisi kesehatan kurang stabil dan usia yang tidak lagi muda.
Salah seorang peserta lanjut usia, Asnah, mengungkapkan bahwa dirinya telah mengikuti berbagai pengajian sejak tahun 1978. Namun, menurutnya, baru kali ini ia merasakan perubahan yang signifikan dalam cara memahami dan membaca Al-Qur’an.
“Sejak tahun 1978 saya sudah ikut berbagai pengajian. Tapi baru kali ini saya merasa ada perubahan yang jelas. Cara belajar di sini membuat saya lebih paham dan lebih mantap,” tutur Asnah.
Kisah lain datang dari Erlina, peserta yang setiap pagi menempuh jarak cukup jauh dari Desa Keramat, Kecamatan Kaway XVI, demi mengikuti setiap pertemuan Akademi Ramadhan.
“Setiap duduk di majelis ini rasanya sejuk sekali. Saya baru kali ini mendapatkan majelis yang benar-benar menenangkan hati. Karena itu, jarak yang jauh tidak terasa,” ungkap Erlina.
Dalam salah satu sesi, bahkan ada peserta yang tak mampu menahan haru setelah pengajian berakhir. Mereka menyampaikan bahwa suasana majelis yang dibangun dalam Akademi Ramadhan menghadirkan ketenangan yang jarang mereka rasakan sebelumnya.
Lebih dari Sekadar Pelatihan Membaca
Ketua Panitia, Supiani, menegaskan bahwa Akademi Ramadhan dirancang bukan sekadar melatih kemampuan membaca, tetapi membangun keberanian untuk membimbing keluarga.
“Kalau satu ibu bisa membaca dan membimbing dengan percaya diri, dampaknya bisa menjangkau satu generasi. Itulah semangat yang ingin kita bangun,” ujarnya.
Sekretaris Panitia, Irma Fitri, Amd., menambahkan bahwa pendekatan pembelajaran dibuat bertahap dan praktis agar peserta merasakan perkembangan yang nyata.
“Kami ingin peserta merasa nyaman, tetapi tetap berkembang. Perubahan terlihat dari cara mereka membaca dan dari semangat mereka untuk terus hadir,” jelas Irma Fitri.
Program ini dipandu oleh Ustadz Syamsul Kamal, penggagas Metode AYA sekaligus trainer utama. Ia menilai bahwa Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk memperkuat literasi Qur’ani secara nyata.
“Yang kita bangun bukan hanya kemampuan teknis membaca, tetapi hubungan hati dengan Al-Qur’an. Kalau hati sudah tersentuh, perubahan itu akan terlihat,” ungkapnya.
Tanda Lahirnya Budaya Qur’ani
Antusiasme peserta bahkan membuat sebagian dari mereka berharap program tidak berhenti pada 10 pertemuan yang telah dijadwalkan, melainkan dapat dilanjutkan hingga akhir Ramadhan.
Hal ini menunjukkan bahwa Akademi Ramadhan mulai menjadi ruang spiritual yang dirindukan, bukan sekadar program musiman.
Di tengah kehidupan modern yang sarat distraksi dan kesibukan, majelis sederhana di Batu Putih ini menghadirkan ketenangan yang dicari banyak orang.
Akademi Ramadhan diharapkan menjadi embrio gerakan pembelajaran Al-Qur’an yang lebih sistematis dan berkelanjutan — dari rumah ke rumah, dari ibu ke anak, dan dari generasi ke generasi.





