Kanal

Network

Logo sinaracehbaru.com
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
sinaracehbaru.com Facebook
sinaracehbaru.com Twitter
sinaracehbaru.com Instagram
sinaracehbaru.com YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2026 sinaracehbaru.com
Allright Reserved

Hilangnya Baut Jembatan Kehidupan di Aceh: Refleksi atas Kerusakan Hutan dan Lingkungan di Aceh

Oleh
Kamis, 1 Januari 2026 - 17:48 WIB

Hilangnya Baut Jembatan Kehidupan di Aceh (Refleksi atas Kerusakan Hutan dan Lingkungan di Aceh)

Oleh: *Dr. Ir. TM Zulfikar*
Praktisi dan Akademisi Lingkungan Aceh

====> Aceh hari ini masih memiliki beberapa jembatan, meskipun beberapa sudah rusak dan hancur dengan banyak sebab. Beton masih berdiri, baja masih melintang, dan kendaraan masih bisa melintas, setidaknya sampai musim hujan berikutnya tiba. Namun, ada satu komponen kecil yang tampaknya telah lama hilang dari jembatan kehidupan kita: baut. Baut-baut penyangga itu tak kasat mata, tetapi tanpanya, jembatan secanggih apa pun hanya menunggu waktu untuk runtuh.

Baut itu bernama hutan, sungai, tanah, dan ekosistem. Dan tampaknya, kita telah melepasnya satu per satu dengan penuh kesadaran, bahkan dengan bangga.
Atas nama pembangunan, Aceh telah menunjukkan kepiawaian luar biasa dalam menukar hutan dengan janji. Janji kesejahteraan, janji lapangan kerja, dan tentu saja janji “tidak akan berdampak besar pada lingkungan.” Sebuah kalimat sakti yang selalu ampuh meredam kegelisahan, meski banjir bandang, longsor, dan krisis air bersih terus menjadi tamu rutin di halaman rumah masyarakat.

Hutan Aceh, yang dahulu disebut sebagai paru-paru terakhir Sumatra, kini tampaknya hanya berfungsi sebagai arsip kenangan. Ia dikenang dalam dokumen, seminar, dan spanduk peringatan Hari Lingkungan Hidup. Di lapangan, gergaji mesin bekerja lebih konsisten daripada kebijakan perlindungan. Pohon tumbang lebih cepat daripada proses penegakan hukum.

Menariknya, setiap terjadi bencana selalu disebut “musibah.” Alam diposisikan sebagai pelaku, sementara manusia hanya korban yang kebetulan membabat lereng, menambang tanpa kendali, dan mengalihkan alur sungai. Sebuah logika yang mengagumkan. Ibarat melepas baut jembatan, lalu menyalahkan gravitasi ketika jembatan runtuh.

Kita juga patut mengapresiasi kemampuan kolektif dalam melupakan. Setiap banjir besar di Aceh selalu memicu kehebohan sesaat: bantuan datang, kamera menyala, pernyataan resmi dirilis.ģ Setelah air surut, ingatan pun ikut menguap. Tidak ada evaluasi serius, apalagi keberanian untuk mengatakan bahwa akar masalahnya adalah kerusakan lingkungan yang disengaja dan dilegalkan.

Lebih ironis lagi, Aceh dianugerahi status kekhususan dan otonomi. Namun, dalam urusan lingkungan, kekhususan itu sering kali hanya berarti kekhususan dalam mempercepat izin dan melonggarkan pengawasan. Kearifan lokal dielu-elukan dalam pidato, tetapi disingkirkan dalam praktik. Padahal, masyarakat adat telah lama memahami bahwa hutan bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan untuk generasi berikutnya.

Kini, baut-baut jembatan kehidupan itu hampir habis. Sungai kehilangan bantaran alaminya, tanah kehilangan daya serapnya, dan masyarakat kehilangan rasa aman. Yang tersisa hanyalah struktur rapuh bernama “pembangunan,” berdiri di atas fondasi yang terus terkikis.
Pertanyaannya sederhana: apakah kita akan terus berpura-pura mengencangkan jembatan dengan cat dan slogan, atau mulai memasang kembali baut yang hilang dengan kebijakan yang berani, penegakan hukum yang jujur, dan penghormatan nyata terhadap lingkungan?

Sebab ketika jembatan kehidupan itu akhirnya runtuh, kita tidak bisa lagi menyalahkan alam. Bautnya hilang bukan karena usia, melainkan karena ternyata ada yang dengan sadar mencabutnya.
Dan sayangnya, alam tidak pernah mengenal sarkasme. Ia hanya mengenal sebab dan akibat. Siapapun mereka sebagai pelaku perusakan hutan dan lingkungan, layak dikatakan BIADAB.

BERITA LAINNYA

‎Piala Bupati Cup 2025 Resmi Ditutup, Plt Bupati Aceh Selatan Harapkan Lahir Bibit Unggul Sepak Bola

‎ ‎Aceh Selatan — Turnamen Sepak Bola Piala Bupati Aceh Selatan Tahun 2025 resmi ditutup. Penutupan berlangsung khidmat dan meriah

| 2 hari lalu

Kapolsek Tangse Bersama Muspika Mediasi Isu Penambangan Ilegal di Sungai Neubok Badeuk

  Sigli – Menyikapi isu yang berkembang di tengah masyarakat terkait dugaan keberadaan alat berat jenis excavator yang melakukan penambangan

| 5 hari lalu

Satreskrim Polres Pidie Bongkar Aksi Pencurian Beruntun di Belasan Sekolah, Pelaku Ditangkap di Banda Aceh

  Sigli – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pidie bersama Unit Jatanras Polda Aceh berhasil mengungkap kasus tindak pidana pencurian

| 6 hari lalu

Kapolres Aceh Selatan Kerahkan Seratus personel Bersihkan Material Banjir Bandang Sehari Sebelumnya di Trumon

  Tapaktuan – Sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat terdampak bencana, Kapolres mengerahkan ratusan personel Polres Aceh

| 7 hari lalu

‎Plt Bupati Aceh Selatan Buka Diklat In House Training (IHT) Damkar I Gelombang II Tahun 2025 ‎

‎ ‎Aceh Selatan — Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Aceh Selatan, H. Baital Mukadis, SE, secara resmi membuka kegiatan Pendidikan dan

| 7 hari lalu

Plt Bupati Aceh Selatan Apresiasi Kepedulian Bank Mandiri dalam Penanganan Banjir Trumon Raya

‎ ‎Aceh Selatan — Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Aceh Selatan, H. Baital Mukadis, SE, menghadiri kegiatan penyaluran bantuan logistik dari

| 1 minggu lalu

Forum Jurnalis Independen Aceh Selatan Kirim Bantuan Logistik untuk Korban Banjir

  TAPAKTUAN – Forum Jurnalis Independen (FORJIAS) Aceh Selatan mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tengah.

| 1 minggu lalu
Logo sinaracehbaru.com
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
sinaracehbaru.com Facebook
sinaracehbaru.com Twitter
sinaracehbaru.com Instagram
sinaracehbaru.com YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2026 sinaracehbaru.com
Allright Reserved
CONTACT US PT. Sinar Aceh Baru,
Jl. Kasturi No. 7B Gp. Keuramat Kuta Alam Banda Aceh, 23123
Telp: 08126962239